Kamis, 09 Februari 2012

GUNUNG MERAPI MELETUS ,TEGURAN DAN ADZAB DARI ALLAH SWT

Oleh : Kukuh Tri Wijiantara.

Mungkin ini adalah sebuah tulisan yang menggambarkan isi hati saya tentang situasi Daerah Istimewa Yogyakarta akhir-akhir ini. Perasaan sedih, kecewa, marah, senang, muak, dan bahagia akan terlukis dalam rangkaian kalimat-kalimat ini. Maaf sekali, di tulisan ini pun akan ada beberapa kalimat yang berakar pada ajaran Agama Islam dan sedikit menyinggung Kejawen. Bukannya SARA, tapi itu karena saya adalah manusia Indonesia yang muslim dan berdarah Jawa. Beribu-ribu maaf. 
Pada tanggal tanggal 26 Oktober 2010 yang tidak akan pernah terlupakan bagi masyarakat Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah , gunung merapi meletus dan memuntahkan awan panas setinggi 1,5 kilometer sejak pukul 17.00 untuk sekian kalinya disaat orang-orang selesai beraktifitas seperti biasanya.
Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan.

                                     KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul :
 “BENCANA ALAM GUNUNG MERAPI”Sebagai tugas Mandiri mata pelajaran sejarah peradaban islam untuk menjadi syarat penilaian tugas Akhir semester satu.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :
1. Allah Swt atas rakhmat dan hidayah-Nya.
2.Bpk. Sungaidi  sebagai dosen tetap fakultas dakwah dan komunikasi      universitas islam negri syarif  hidayatullah.
3.Kedua Orang Tua kami yang tercinta. Yang telah banyak memberi bantuan kepada penulis baik motivasi Spritual ataupun bantuan Materil.
4.Teman-Teman yang memberikan semangat dan bantuan bagi penulis.

Dalam penelitian kali ini Penulis merasa banyak kekurangan. Penulis Sangat mengharapkan kritik dan saran dari penguji dan pembaca dalam kelanjutan penelitian ini.
Akhirnya, tiada kata yang dapat kami berikan selain harapan dan terima kasih. semoga Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua serta dapat meningkatkan keimanan kita menjadi hamba Allah yang mulia.

Penulis
Jakarta, 20 januari 2011

                                   Pendahuluan
Daerah Istimewa Yogyakarta atau  jogja dan seringkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan pulau jawa dan perbatasan dengan provinsi jawa tengah di sebelah utara secara geografis yogyakarta terletak dibagian tengah. Daerah tersebut terkena bencana gunung meletus pada tanggal 26 oktober 2010 yang mengakibatkan korban meninggal dan tidak memiliki rumah.
Gunung Merapi adalah gunung berapi dibagian tangah pulau jawa dan merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam provinsi jawa tengah, yaitu Kabupaten Magelang disisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan di sekitar puncaknya menjadi kawasan nasional gunung merapi sejak tahun 2004.Gunung berapi ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548 ,gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Yogyakarta dan Kota Magelang kota besar terdekat, berjarak 30 km dari puncaknya1. Di lerengnya masih banyak terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak 4 km dari puncaknya. Pleh karena tingkat kepentingannya ini, merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk teraktif.
Subhanallah. . . inilah meletusnya gunung berapi di kota jogja dan magelang, tanpa permisi bertandang dengan segala penuh keperkasaan dan keganasannya , kerugian materi serta harta sulit di kalkulasi , ratusan jiwa terenggut, namun dalam bencana alam yang dahsyat itu, pertolongan allah senantiasa terluhur , penduduk jogja dan magelang sekitarnya masih banyak yang diselamatkan dan memiliki hikmah dan pelajaran bahwa setiap ada ujian pasti ada manfaat dan hikmah dibalik bencana.
Sehingga pada saat itu saya berfikir bahwa Indonesia akan segera berakhir apabila dari masyarakat tidak mau bertawakal  Bencana yang singgah di tanah air sebulan terakhir ini September 2010 bertubi-tubi menghantam berbagai wilayah di tanah air. Ada bencana banjir, longsor, tsunami , bendungan ambrol dan hingga juga meletusnya gunung berapi.
Marilah kita mengingat kembali akan azab yang akan kita terima di akhirat jika kita banyak mengingkari Allah selama di dunia. Tak hanya azab di akhirat, perbuatan maksiat yang kita lakukan juga akan mengundang azab di dunia. Sebagaimana yang dialami kaum Sodom, kaum Tsamud, kaum ‘Aad, dan kaum Saba’, mungkin hal ini jualah yang sedang menimpa ‘kaum Indonesia’, terkhusus ‘kaum Jawa’ ataupun kaum yang sedang menetap di Yogyakarta dansekitarnya.

                                                      BAB II
                                              PEMBAHASAN

“GUNUNG MERAPI MELETUS ,TEGURAN DAN ADZAB DARI ALLAH SWT ”
Dan sungguh akan kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan dan kabarkanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar (Q.S al-Baqaroh : 155)
Daerah Istimewa Yogyakarta atau sering dipanggil “jogja” saja, kini telah bergejolak dan membara gara-gara bencana alam letusan gunung merapi. Tidak seperti sebelum-belumnya, gunung merapi kini bergemuruh melomtarkan isi dapur magma lebih kuat dan berjangka waktu lebih lama. Gunung merapi pun tak segan-segan menurunkan awan panas ke segala arah, termasuk ke wilayah pemukiman warga jogja.Penduduk jogja kini semakin resah . setiap hari mengalami secara langsung bagaimana susahnya hidup gara-gara bencana merapi kali ini. Hampir setiap sore hujan deras mengguyur Jogja, yang mana hal itu mengakibatkan pengungsi-pengungsi harus berdiri karena tikar-tikar di pengungsian sudah seperti kubangan lumpur. Hampir setiap jam Gunung Merapi meletus, yang mana hal itu menekan sisi manusiawi para pengungsi, yakni rasa takut akan mati. Belum lagi kilatan petir menggelempar-gelempar yang menyibak langit kelam Jogja dan menabuh gendang telinga .
Betapa panasnya awan yang dimuntahkan oleh Merapi, hingga apabila kita tersapu awan panas, ketika kita menghirup abunya maka paru-paru kita akan layu dan tersumbat, tubuh kita akan mendadak kaku hingga kita tewas seketika. Perumpamaannya sama seperti jika kita memanggang belalang. Wujud awan panas berdasarkan kesaksian saksi mata yang berhasil lolos dari maut adalah berbentuk gumpalan asap putih yang membumbung tinggi dengan warna yang memerah di tengah-tengahnya dan sangat cepat meluncur ke arah mereka. Sebagai insan beriman, tentu kita tak hanya memandang fenomena ini dari segi keilmuan duniawi saja, namun terpikirkah kita bahwa panasnya awan itu tak seberapa dibandingkan panasneraka?

Hadits riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Api kalian yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah sepertujuh puluh dari panas api Jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, bila sepanas ini saja sudah cukup wahai Rasulullah saw. Beliau bersabda: Sesungguhnya panas api tersebut masih tersisa sebanyak enam puluh sembilan bagian, panas masing-masing sama dengan api ini. (Shahih Muslim No.5077)

Seperti yang kita semua tahu, isi alam semesta ini adalah milik Tuhan YME. Tidak ada satu kekuatan yang mampu menandingiNya. Tidak pernah terjadi suatu pergantian siang-malam di suatu hari tanpa izinNya. Berdasar pemahaman-pemahaman sederhana saya akan bencana alam, saya rasa Jogja itu sebenarnya akan baik-baik saja. Saya berkesimpulan demikian
 berdasar sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAW dan saya sangat percaya itu. Dalam ajaran agama saya, umat manusia pasca turunnya kenabian beliau digaransi oleh Allah SWT tidak akan mengalami azab atau hukuman langsung di dunia seperti umat-umat manusia terdahulu. Maka daripada itu, saya bisa begitu tenang menanggapi bencana Merapi di Jogja baru-baru ini. Bukankah kita semua tahu, bencana tsunami di Aceh yang puluhan kali lipat jauh kuat menimpa rakyat Aceh masih menyisakan banyak sekali manusia? Bukankah kita semua tahu tsunami tersebut tidak mampu menghancurkan Aceh?
Dalam bencana alam, banyak korban nyawa itu biasa. Dalam bencana alam, banyak bangunan rusak itu biasa. Akan tetapi, ketika bencana alam sudah menyapa, kita masih lupa kepadaNya, itu baru aneh. Saya itu kadang judeg (bisa diartikan marah, kecewa, dan sedih dirasakan secara bersamaan) dengan prilaku banyak oknum merespon bencana alam di Jogja kali ini. Sewaktu saya keliling ke beberapa pengungsian, saya miris melihat beberapa “bantuan yang tidak ikhlas”. Cukup penamaan saja di wadah bantuan dengan sewajarnya untuk pendataan, tanpa menancapi area pengungsian dengan berbagai bendera-bendera yang besar dan mencolok. Lebih-lebih diberi spanduk yang memakai foto-foto “orang sok dermawan”. Saya prihatin melihat bencana alam yang menimpa rakyat Jogja ini dijadikan semacam “ajang kampanye” oleh beberapa oknum. Saya salut pada ketegasan Sultan HB X yang mengintruksikan area pengungsian “dimerah-putihkan”.
Jadi sebenarnya apa yang menyebabkan gunung meletus begitu gencang di tahun ini banyaknya bencana alam di negara Indonesia mulai dari sumatera aceh, padang, sampai timur Indonesia, gunung merapi meletus ini mengingatkan kepada Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana. Akhirnya Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Sesungguhnya bencana ini teguran allah dari hamba-hambanya dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu , maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah kepadanya.
Marilah kita mengingat kembali akan azab yang akan kita terima di akhirat jika kita banyak mengingkari Allah selama di dunia. Tak hanya azab di akhirat, perbuatan maksiat yang kita lakukan juga akan mengundang azab di dunia. Sebagaimana yang dialami kaum Sodom, kaum Tsamud, kaum ‘Aad, dan kaum Saba’, mungkin hal ini jualah yang sedang menimpa ‘kaum Indonesia’, terkhusus ‘kaum Jawa’ ataupun kaum yang sedang menetap di Yogyakarta dansekitarnya.

Kejadian merapi juga pernah terjadi ketika Rosulullah naik ke Gunung Uhud, maka kemuudian entah mengapa gunung uhud mengeluarkan getaran , ternyata getaran tersebut adalah karna rasa kecintaan dan rasa senangnya Gunung uhud terhadap Rosulullah SAW yang telah menaikinya dan kemudian sembari menghentak-hentakan kakinya ditanah, Rosulullah berkata : “Diamlah wahai uhud ! karna diatasmu ada Rosulullah SAW yang menuju kepada dua sahabat yang berada di gunung uhud”. Lantas tenanglah kembali Gunung Uhud mendengar kata-kata rosulullah tadi.Dan cerita diatas menunjukan bahwa semua makhluk Allah itu rindu pada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW
AllahSWTberfirman:
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" .
Sudahkah bangsa ini bersyukur atas nikmat yang demikian banyak dilimpahkan Allah atas tanah ini?

Jika ditilik lebih jauh, rasanya pantaslah Allah menimpakan musibah erupsi Merapi sekarang ini terutama di daerah yang terparah yakni di tanah Keraton (Yogyakarta). Betapa banyak maksiat di tanah ini. Mulai dari pergaulan bebas, hingga paham kejawen yang berkembang pesat di Yogyakarta. Melihat betapa dilupakannya Allah di negeri ini, maka wajar saja rasanya Allah ‘cemburu’ lalu menimpakan bencana yang dahsyat sebagai peringatan bagi kita semua. Pergaulan bebas, seks bebas, praktek syirik, dan segala macam kesenangan-kesenangan ala syaitan bin iblis harus segera kita tinggalkan. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib ra.: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)

Maka dari itu, jika kita menginginkan ketentraman dan kesejahteraan dari Allah, tentu kita harus menyikapi bencana ini sebagai pukulan agar kita kembali ke jalan Allah, kembali bersyukur dan senantiasa meng-esa-kan-Nya. Kita harus semakin mendekatkan diri kepada-Nya, bukan justru semakin menduakan Allah dengan menggelar ritual syirik seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Yogyakarta pada senin-8 November untuk menolak bala. Ya, mereka mengadakan upacara adat yang digelar di tugu Yogyakarta, dimulai dengan pertunjukan Tari Srimpi, kemudian menyembelih hewan ternak berupa sapi dan ayam, yang nantinya kepala, kaki, dan ekor dari hewan sembelihan itu ditanam di sekitar Kaliurang, dan dagingnya dibagikan kepada para pengungsi. Na’udzubillahimindzaligh.

Walhasil, Merapi justru semakin parah dan semakin memuntahkan isinya yang tak kunjung mereda hingga hari ini. Semua alasan sains yang coba menjelaskan fenomena ini memang terasa logis, tapi bukan hanya itu alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Kita tak boleh mengabaikan perspektif al-Qur’an. Sebagai orang yang beriman, tentu kita memercayai bahwa Allah-lah penggenggam alam semesta ini, tiada satupun yang mampu berkuasa selain Dia. Maka, ketika bencana datang menghampiri kita, pendekatan pertama yag harus kita lakukan tentu adalah dari sudut pandang aqidah. Tiada satu daunpun yang jatuh dimuka bumi ini yang lepas dari pengawasan Allah, artinya tiada satupun kejadian dimuka bumi ini kecuali karena capur tangan Allah. Maka, instropeksilah diri kita. Seperti apa kita terhadap Allah .

selama ini? Apakah kita termasuk golongan orang beriman yang sabar yng diuji Allah sebagaimana firman Allah SWT
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Atau kita termasuk hamba Allah yang kufur sebagaimana firman Allah:
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)
Semua berpulang kepada kita, berpulang pada keyakinan dan keimanan kita. Yang pasti, bencana ini adalah teguran dari Allah, maka dari itu, instropeksilah diri kita. Allah hanya mau kita kembali ke jalan yang benar, diinullah tanpa terkotori dengan bid’ah, takhayul, dan khurafat. Allah hanya mau kita istiqomah di jalan yang benar, tanpa terkotori dengan maksiat-maksiat karena terbujuk rayu syaitan. Allah sayang kepada kita, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu mendapat petunjuk hidayah dari-Nya.


                                                   BAB III
                                                 PENUTUP

KESIMPULAN :
Betapa banyak maksiat di tanah ini. Mulai dari pergaulan bebas, hingga paham kejawen yang berkembang pesat di Yogyakarta. Melihat betapa dilupakannya Allah di negeri ini, maka wajar saja rasanya Allah ‘cemburu’ lalu menimpakan bencana yang dahsyat sebagai peringatan bagi kita semua. Pergaulan bebas, seks bebas, praktek syirik, dan segala macam kesenangan-kesenangan ala syaitan bin iblis harus segera kita tinggalkan.
SARAN :
•    Marilah kita mengingat kembali akan azab yang akan kita terima di akhirat jika kita banyak mengingkari Allah selama di dunia.
•    Kehilangan dan sedih, kita harus mengikhlaskannya dan ucapkan inalilahi wa inna ilaihi rojiun
•    Lakukanlah Sholat lima waktu secara terus menerus dan berdoa setiap shalat malam.
•    Bahagia ucapkanlah alhamdullillah









DAFTAR PUSTAKA :
Buku pelajaran Siroh Nabawiyah SMK Al Muhadjirin 57 Kelas XI Al Mhadjirin57 bekasi,   tahun 2007
Buku Pelajaran TAUHID Madrasah Aliyah Kelas XI Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, tahun 2009.

Suara Islam Online.com
www.wikipedia.com








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar